Rumah Ustadz Selamat dari Longsor Banjarnegara

Rumah Ustadz Selamat dari Longsor Banjarnegara
Rumah yang selamat dari longsor


  Entah darimana selalu saja ada isu baru yang tersebar di internet. Salah satunya adalah mengenai Rumah Yang Selamat dari Bencana Longsor Banjarnegara 2014. Hal seperti ini sangat sensitif sekali, namun apabila informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan fakta, itu akan menjadi pembohongan publik. Perlu kami tekankan disini, Rumah Kokoh tersebut memang fakta, tetapi rumah tersebut diklaim sebagai rumah Ustadz adalah bohong.

Sejak kali pertama longsor Dusun Jemblung (Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar) Banjarnegara Jawa Tengah, ramai kabar rumah putih yang tidak diterjang longsor dari 'Bukit Telaga Lele'. Padahal sekeliling rumah itu luluh lantah diterjang longsor.
Berbagai spekulasi pun berkembang hingga ada yang mengatakan rumah putih yang masih kokoh tegak berdiri tersebut adalah milik seorang ustadz.

OMklik turut sedih dan berbelasungkawa atas kejadian bencana longsor di Banjarnegara. Namun, tanpa maksud negatif terhadap korban dan keluarga korban bencana, Saya harus menyampaikan fakta yang kami temukan terhadap klaim palsu diatas.

Berikut fakta yang ditemukan :

  1. Rumah tersebut bukanlah rumah seorang yang diklaim sebagai Ustadz, melainkan rumah milik Bapak Mukheri yang tinggal bersama istri, serta menantu dan cucunya.
  2. Dua korban selamat di rumah tersebut adalah Ibu Chotimah yang merupakan menantu dari Bapak Mukheri dan Wawan Wahyuni (keponakan Ibu Chotimah juga cucu dari Bapak Mukheri).
  3. Korban meninggal di rumah tersebut adalah Juan (suami Chotimah) dan Daffa (anaknya), serta Bapak Mukheri dan Istrinya.
  4. Ibu Chotimah sehari-harinya berdagang di Pasar Karang Kobar.

  • Bapak Mukheri = Pemilik Rumah.
  • Ibu Chotimah = Menantu dari Bapak Mukheri.
  • Wawan Wahyuni = Keponakan dari Ibu Chotimah atau cucu dari Bapak Mukheri.

Saat dikonfirmasi tentang keberadaan Ustadz yang disangka tinggal di rumah putih tersebut, warga sekitar mengemukakan justru rumah sang Ustadz berada di bawah 'rumah kokoh tersebut' dan kondisi rumah sang Ustadz rusak berat.

Saksi hidup yang selamat dalam peristiwa tersebut, Wawan Wahyuni mengatakan bahwa saat terjadinya longsor, Ia sedang berada di rumah sang kakek, Bapak Mukheri. Dia mengaku mengunjungi rumah kakeknya untuk membantu membereskan genting yang rusak.
"Saat itu saya ke sana untuk memperbaiki atap. Biasanya bergantian dengan bapak yang sore hari baru datang," ucap Wawan yang kehilangan kaki palsu saat bencana tersebut terjadi.
Wawan sendiri berhasil menyelamatkan diri setelah berjuang selama sekitar sembilan jam saat berada di dalam lumpur dari Bukit Telaga Lele dan ditolong oleh para relawan pada tengah malam.

Video Pengakuan Korban Selamat Longsor Banjarnegara

Penjelasan ilmiah tentang rumah kokoh diterjang longsor


Fenomena rumah putih yang masih tegak berdiri di antara bekas longsoran tersebut ternyata mempunyai penjelasan ilmiah tersendiri dari para geolog. Dalam beberapa penjelasan disebutkan lokasi rumah putih milik Mukheri itu masih kokoh berdiri karena aliran longsor yang berbelok ke arah kanan dan kiri di lokasi tersebut.

Geolog dari Universitas Jenderal Soedirman, Indra Permanajati menganalisa struktur tanah yang berada di sekitar rumah Mukheri itu memiliki lapisan bebatuan berbeda dengan sekelilingnya.

"Batuan yang berada di lapisan tanah di bawah rumah putih tersebut, secara regional berjenis batu 'lempung Tuffan' yang memiliki karakteristik lebih kuat, dibanding bebatuan yang ikut longsor karena batuan yang dilingkupi pasir. Batu yang dilingkupi pasir itu, jika mengalami pemburukan sifat akan lapuk dan menyebabkan longsor," paparnya, Jumat (19/12).

Selain jenis batuan yang berbeda, struktur bukit yang berada di wilayah tersebut berbentuk tekuk lereng, yakni berbentuk bukit kecil yang kemudian mendatar sedikit dan bergelombang. Kondisi ini, menurutnya, yang menyebabkan rumah putih tersebut selamat dari terjangan longsor di Dusun Jemblung, yang jenis luncurannya mengarah ke bidang terbuka dengan komposisi unsurnya dari tanah dan batu.

"Pada lokasi longsoran teramati longsoran seperti terbelah dua. Prediksinya, ada material yang resisten di tengah bagian bawah bukit itu (tekuk lereng), sehingga longsoran terbelah ke kanan dan ke kiri," papar Indra.

Lalu longsor itu mengikuti alur aliran ke bawah menuju daerah yang rendah dan masuk menyatu ke aliran sungai.
"Kondisi alirannya seperti membelah. Jalur yang kanan, material menabrak dinding sungai kemudian membelok ke barat daya dan mengenai Dusun Jemblung. Sedangkan, untuk flow track yang sebelah kiri langsung mengenai pemukiman di Dusun Jemblung," jelasnya.

Tidak jauh berbeda dengan Indra, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kristanto menjelaskan ada bukit penahan longsoran di atas rumah yang masih kokoh berdiri.
Menurutnya, bukit kecil itu terdiri dari bebatuan khusus yang mampu menahan beban longsoran yang turun ke bawah. "Sehingga arah longsor memecah ke kanan dan ke kiri lalu bertemu di bawah," kata dia.

Namun, hingga kini, dia belum belum melakukan kajian mendalam. Sebab, saat ini pihaknya fokus meneliti lokasi rawan longsor dan penyebab longsor di bukit Tlaga Lele atau 400 meter dari perkampungan Dusun Jemblung.
"Itu jenis bebatuan harus dimodelkan terlebih dahulu. Mulai dari topografi dan penyebab bisa menahan. Kalau ada data topografi baru bisa simpulkan," ucapnya.

NB : Artikel ini terus diperbaharui setiap waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Info Terbaru : Juan (anak dari Bapak Mukheri) memang sering mengajar anak-anak sekitar mengaji, tetapi belum dipastikan apakah rumah tersebut sebagai tempatnya mengajar. Akan diperbaharui lebih lanjut dengan bukti yang lebih valid.
sumber:indonesianhoaxes

Postingan Selanjutnya : Fakta Tentang Isu Kecurangan Pengisian Bensin Di SPBU
Semoga bermanfaat. Jangan lupa berikan komentar sobat dibawah ya.


0 Tanggapan "Rumah Ustadz Selamat dari Longsor Banjarnegara"

Posting Komentar

Gimana sob pendapatnya tentang postingan di atas?
Kasih komentarnya ya :)